Catatan Perjalanan Kalteng (bagian I)

30042015
06.00

Mengawali pagi dengan perasaan tertekan. Pasalnya ada jadwal penerbangan pesawat yang mesti dikejar, sementara jalanan padat merayap. Jadilah perjalanan menuju bandara menjadi sangat melelahkan. Ditambah obrolan di televisi di bus damri yang menayangkan soal hubungan diplomasi Indonesia yang terancam karena urusan eksekusi mati. Berisik. Media memang banyak omongnya. Semacam provokator yang suka melebih-lebihkan perkara.

Perlu diketahui sebelumnya, soal kegiatan pagi ini, mengapa saya repot-repot bangun pagi, berangkat ke bandara lantas mengejar pesawat. Sebab hari ini ada tugas liputan ke salah satu kota di Kalimantan Tengah sana, Pangkalan Bun namanya. Kota ini mendadak happening ketika kejadian naas pesawat Air Asia. Para pewarta berita liputan ke sana. Jadilah Pangkalan Bun disebut-sebut, mengundang penasaran.

Menyoal kegiatan pagi ini, jadi saya diagendakan untuk mengikuti “Journalist Trip” ke salah satu kawasan Moratorium Hutan yang kabarya dirambah perusahaan sawit di sana. Agenda ini dibawa suatu lembaga swadaya masyarakat bernama Yayasan Perspektif Baru Indonesia, Kemitraan beserta Wahana Lingkungan Hidup (Walhi),

Kembali ke pandangan skeptis saya soal media. Dalam sejumlah kasus, ia kerap “menjual” nama kepentingan kita selaku masyarakat, dalam serangkaian pemberitaannya. Padahal wacana yang digulirkan itu hanya semata untuk kepentingan bisnis. Bagaimana membuat tayangan menarik, lantas mengundang banyak iklan berdatangan.

Tapi saya tak juga mau menggeneralisir. Dunia media banyak pula sisi baiknya. Sisi bahwa ia berguna menyampaikan secara luas segala kebijakan publik yang strategis, berguna mengundang semua orang kritis, untuk membuka ruang dialog agar pemirsa ikutan kritis. Berguna pula ia untuk menyiarkan berita bencana di seluruh dunia. Entah gempa, entah kebakaran atau kecelakaan lainnya seperti perang, yang menjadi jalan Tuhan mengambil nyawa. Agar timbul simpati dan mawas diri dari pembaca serta pemirsa. Bahkan media pun bisa menjadi jalan partisipasi kita di dalamnya.

Namanya media. Ia hanyalah alat. Seperti pisau, apakah akan digunakan untuk membuat masakan lezat, atau justru digunakan untuk memutilasi manusia. Pada akhirnya, baik buruknya alat bergantung siapa penggunanya, dan siapa pula yang memberikan penilaian. Lagi pula, semacam tindak hipokrit jika saya keras mengkritiknya, sementara saya tengah mendekap bidang ini. Tapi maaf, dalam kasus pagi ini, saya rasa ini sangat berisik dan menyampah.

Beruntunglah saya punya playlist lagu-lagu yang menenangkan, juga sebuah buku pinjaman yang menyenangkan. “Burung-Burung Rantau”, judulnya. Ditulis oleh seseorang dengan otak yang brengsek briliannya, bernama YB Mangunwijaya. Ini kisah tentang segala perenungan hidup dikemas dalam kisah Marineti dan keluarganya. Dengan kedua obyek inilah saya mengalihkan segala kekhawatiran. Soal novel, saya berencana membuat tulisan tersendiri tentangnya.

09.45

Berlari dan berlari. Akhirnya saya sampai juga di bandara. Disambut dua rekan aktivis lingkungan yang menatap lega. Pasalnya beberapa menit lagi pesawat akan berangkat. Ya, saya pun lega. Sebab tak ketinggalan, sebab pula tak terlalu lelah pikirannya dimakan rasa panik. Dan rupaya, pesawat delay hampir sejam.

Waktu pun terisi dengan banyak perbincangan dengan beberapa aktivis lingkungan. Bahwa di luar sana, banyak orang yang diambil haknya lantas mengalami dera. Banyak orang tak punya ruang dan kesempatan untuk memeroleh pendidikan baik. Betapa selama ini saya tak pandai bersyukur. Tak pula pandai membuka mata, menoleh ke mereka, lalu terlibat dalam salit tolong bersama mereka. Saya malu.

***
Segala penantian pasti ada ujungnya. Maka dalam setiap penantian, diusahakan kita bisa mengisinya dengan hal-hal baik dan membaikkan, bukan?

Sebab toh kemudian kami masuk juga ke burung raksasa besi itu. Kembali lebih memasrahkan nyawa pada yang kuasa. Meski musabab dicabut nyawa bukan karena itu belaka. Toh orang yang duduk diam pun bisa saja dipanggil-Nya, jika berkenan. Manusia memang sering konyol.

Tapi di pesawat, manusia bisa lebih dekat dengan lapisan atmosfer. Di mana tampak ada awan yang indah bergumpal-gumpal. Sesekali saya melihat kembaran awan kinton-nya Sun Goku. Mungkin di balik gumpalan yang lain juga ada kerajaan para penghuni awan. Mereka yang lebih dekat dengan matahari. Mungkin saja mereka selama ini melihat kita dari kejauhan. Mencibir, betapa bangsa manusia gemar ngelunjak pada tempat tinggalnya sendiri. Siapa yang tahu.

Mengutip tulisannya Mbah Mangunwijaya yang menceritakan sepenggal pemikiran salah satu tokoh novel bernama Marineti, bahwa betapa pesawat terbang merupakan simbol kemajuan teknologi. Tapi pesawat yang bisa terbang tinggi tetap saja bergantung pada landasan yang luas, yang sebagian didapat dari hasil penggusuran rumahnya masyarakat miskin.

Merekalah yang (selalu) jadi tumbal. Sementara kemajuan teknologi itu hanya dinikmati segelintir orang berduit. Dan orang miskin tetap harus menempuh perjalanan berjam-jam yang macet, pengap dan melelahkan untuk sekadar bepergian antarkota. Kita sudah terbiasa.

13.38

(Setelah oanjang berprolog-prolog, sampai juga untuk memulai catatan yang menyentuh pembahasan soal Pangkalan Bun). Sampai di Bandara Iskandar Pangkalan Bun yang super imut-imut tapi padat pengunjung. Pasalnya, ada sejumlah rombongan jamaah umrah yang baru kembali. Hanya beberapa saja jamaah itu, tapi penjemputnya bejibun. Diperkirakan, satu jamaah dijemput warga sekampung. Alhasil, kami pun juga merasa disambut oleh massa yang sesak. Diperkirakan, ini bahkan lebih dari padatnya konser Super Junior. Hahaha..

Tapi kami tak disambut. Hanya menyaksikan para penjemput yang menyambut jamaahnya dengan haru sekaligus suka hati. Ada banyak hantaran. Bahkan mobil jemputan pun diberi pita dan bunga unyu-unyu. Soal agama, masyarakat kita memang unik. Gemar beramai-ramai menyaksikan yang tampaknya baik, lantas mengadakan pesta pesti. Tak mengapa. Kata Tuhan, toh berangkat haji ke Tanah Suci merupakan hal agung yang sepatutnya dipenuhi, untuk jadi penyempurna empat rukun lainnya. Meski ini umrah, semoga kita semua benar-benar bisa selalu berupaya tampil sempurna buat-Nya, bukan buat manusia lain. Amin.

13.38
Kita sampai di Dermaga Kumai. Jalan menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Tapi kami tak lantas segera berangkat dengan kapal pariwisata. Kami lebih dulu melayani perut yang kelaparan sejak pagi: makan.

Singkat cerita, perjalanan yang mengesankan ini pun dimulai. Perjalanan yang bagi saya pribadi, penuh beragam keajaiban. Entah alamnya, entah orang-orangnya. Yang lebih konyol lagi, di sini saya bertemu sosok-sosok yang serupa dua cowok yang sempat saya taksir di masa muda dulu. Sebut saja namanya Ujang dan Acep. Keduanya wartawan daerah sana, putera Kalteng.

Ah, waktu cepat berlalu dan saya benar-benar jadi merasa tuir ~

Tapi aslinya, mereka nyaris serupa. Entah dalam perilaku, entah dalam tampilan fisik. Saya jadi seperti dikasih bonus sama Tuhan untuk menikmati keajaiban alam di sini, sekaligus bernostalgia. đŸ˜€ Lagi pula, akan ada perjalanan panjang ke depannya. Seharusnya, sedikit merapat pada mereka akan membuat perjalanan lebih berwarna-warni.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s