Siluman Jale

23042015

06.33

Baru-baru ini mendengarkan (lagi) seseorang yang membicarakan soal integritas seorang wartawan. Profesi–yang kata sebagian orang–unik, karena ia punya kantor, tapi tak punya jam kerja. Gaya kerja dinamis. Kerjanya bertanya, membaca, menunggu, mengejar, bersiasat, mencatat, lantas menuliskannya dalam bentuk berita. Begitu berlangsung setiap hari. Katanya, semua dilakukan demi kepentingan memenuhi kebutuhan masyarakat banyak akan informasi.

Unik, karena ada hal tabu di dunia kewartawanan menyoal apa yang disebut “Jale”. Ia terselip dan menggerayang di antara kegiatan liputan. Bentuknya berupa uang atau barang. Dari yang jumlahnya dinilai recehan hingga yang dalam jumlah besar.

Ia bercerita soal bagaimana seorang wartawan seharusnya menjaga diri dari jale. Bagaimama upayanya menghindari dan menegaskan diri menolak jale. Berlanjut menunjuk para senior yang berlaku begitu. Ia juga menunjuk nama redaktur. Sesaat, ini membuat kekecewaan baru di benak saya.

Bagaimana kemudian ia tampak bangga menjadi bersih meski terasingkan. Rekan lain yang menerima ia sebut seperti tak punya harga diri. Ia mengistilahkannya bak ikan di kolam yang mulutnya menganga, siap dikasih umpan. Lantas ia menasihati agar para junior bisa lebih dinamis menyikapi jale. Jangan sampai menolak tapi menyakiti harga diri orang yang memberi. Jangan pula sampai jadi rusak relasi antar wartawan.

Kelihatannya mengagumkan.

Betul, katanya. Bahwa integritas di diri seorang wartawan mutlak dijaga. Sebab tak perlu membawa-bawa profesi. Menjaga integritas sebagai manusia memang seharusnya dilakukan demi keuntungan diri. Keuntungan, sebab hati akan menjadi damai. Tapi integritas macam apa? Iakah itu berarti seorang yang menerima benda yang disebut jale kemudian cacat sebab tak berintegritas. Saking dinamisnya profesi ini, saya merasa tak bisa saklek menetapkan ini salah dan ini benar. Toh kehidupan pun begitu. Serba dinamis.

Merespons sang senior, awalnya saya malah membidik orang-orang yang tadi ia sebut terima jale. Saya sempat merasa kecewa yang kemudian saya ralat setelah berpikir ulang di pagi hari. Merasa konyol sebab tak ada yang mesti dikecewakan. Toh jale hanya merupakan contoh super kecil dari perilaku orang-orang media di zaman konglomerasi ini. Di mana awalnya sudah dibentuk bahwa sumber penghidupan media dari iklan. Karenanya media harus beramah tamah dengan pengusaha, pun dengan mereka yang berkuasa.

Mengapa harus kecewa. Toh saya pun berperilaku sama. Meski bukan uang dalam bentuk fisik dalam amplop. Salah satu contoh kecil, di dompet ada e-money yang terselip di bingkisan liputan. Itu uang dalam bentuk kartu. Toh itu dipakai juga untuk ongkos kereta. Untuk ongkos top up bus trans. Itu hanya contoh kecil saja.

Jale sudah seperti siluman. Ia bertransformasi jadi beragam bentuk yang gak terdeteksi. Ada voucher, handphone, laptop, mobil atau seremeh flash disk berbentuk lucu. Sepertinya mengerikan tapi inilah kenyataan. Dari cerita sejumlah teman yang mengaku idealis, mereka toh membelanjakan voucher, menggunakan emoney dan flash disk, dan penggunaan barang lainnya, dengan alasan itu bukan dalam bentuk uang (secara fisik).

Entah kalian memandangnya bagaimana.

Tapi untuk saat ini, saya masih percaya banyak wartawan dan manusia-manusia lain yang masih bisa jaga integritas berdasarkan versinya masing-masing. Yang upayanya untuk menjaga integritas tak diumbar sambil koar-koar menunjuk si anu dan si ani untuk memberi contoh yang tidak baik. Orang-orang tersebut tak usil dan menghargai setiap pilihan orang. Menerima atau tidak menerima benda bernama jale, itu pilihan. Dan masing-masing orang punya kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pilihannya masing-masing. Tak perlu usil.

Jika merasa itu tak perlu diambil, tak perlu diambil.

Tapi jika mau diambil, ambil saja. Kenapa mesti repot. Toh semua orang punya rasa dan takarannya sendiri untuk menerima atau tak menerima apa-apa yang ada di hadapannya. Saya sepakat dengan sikap semacam ini. Dengan kesepakatan ini, mungkin saya akan disebut orang yang tak punya sikap. Entahlah. Mungkin itu benar.

Untuk, senior yang di awal saya singgung, saya pun tak perlu usil. Ia tengah sharing karena peduli pada juniornya. Agar tak merasa terasingkan seperti yang ia alami di tengah komunitas wartawan. Adalah haknya untuk bercerita ini itu. Dengarkan yang baik, dan ambilah sebagai pelajaran. Buang ke laut aja yang jeleknya.

*sambilngantuk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s