Pagi (Bagian II)

18042015

05.46

“Mendengarkan bocah-bocah yang melantunkan ayat Alquran di waktu shubuh dan maghrib, menenangkan.”

Tangan mungil itu menunjuk telaten rangkaian huruf arab yang berbaris rapi, lantas mengeja barisan ayat dengan hati-hati, tapi lancar. Yang ditunjuknya itu adalah salah satu lembaran kitab yang dianggap suci oleh orang Islam bernama Alquran. Panjang pendeknya kebanyakan betul, sehingga saya tak terlalu kerepotan untuk memprotesnya. Hanya sesekali salah huruf, sekali diingatkan, dia membetulkannya sendiri. Nama bocah itu Alika. Anak tetangga sebelah, Mungil cantik dan pintar membaca Alquran di usianya yang belia. “Baru masuk kelas satu,” katanya ketika saya bertanya. Maksud dia, saat ini tengah duduk di kelas satu SD.

Waaww … jatuh cinta sama kamu neng.

Alika tak sendirian. Ada bocah lainnya yang juga, anak-anak saudara dan tetangga kampung, datang ke rumah ba’da shubuh membawa Alquran. Mereka rata-rata usianya sedikit di atas Alika. Ada lelaki ada perempuan. Mereka semua mengagumkan. Sebab sudah menjadi rutinitas bagi mereka untuk setiap hari berangkat mengaji di waktu shubuh dan maghrib. Mereka datang bergerombol. Hingga di dua waktu tadi, rumah ibu saya selalu ramai oleh anak-anak yang mengaji. Shubuh tadarusan, maghrib hafalan juz amma. Saya hitung, jumlah mereka 49 anak. Yang mengajari ibu saya seorang. Hebatnya, meski sendiri dialah sang pengendali situasi.

Kamu tahu, bagaimana kelakuan para bocah di sini? Terutama anak-anak lelaki, mereka sering agresif jika mencari perhatian. Suaranya berteriak, saling menjahili dan mencubit satu sama lain. Sibuk mengobrol. Protes minta didahululan. Sementara anak-anak perempuan di sini lebih kalem. Tapi beberapa dari mereka ada yang senang mengomeli anak lelaki yang bikin gaduh. Di antara mereka, ada pula yang cengeng. Padahal cuma dibenarkan bacaan Alqurannya, dia menangis. Ada pula yang pemarah, genit dan sok dewasa. Ah. Dasar para bocah. Kelakuan kalian selalulah menggelikan. Posisi ibu saya tampak berwibawa di mata mereka. Buktinya, sekali ditegur mereka yang ribut jadi diam. Mereka nurut disuruh fokus mengaji.

Namanya juga anak-anak. Kelakuan mereka mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Di mana ketika itu, saya tergolong anak yang cengeng dan pemalu, tapi menuntut banyak perhatian. Apalagi kalau merasa punya hal yang bisa dipamerkan. Saya akan mencari ibu dan bapak, lantas memamerkannya. Tapi dalam permainan di antara teman, saya selalu jadi anak bawang. Karena memang payah dalam performa. :-p

Masa kecil selalu menyenangkan untuk dikenang.

Saya bersyukur bisa menyaksikan kegiatan anak-anak yang mengaji di sini. Di rumah ibu. Sebab sejak kemarin saya ada di rumahnya, kawasan Bandung sebelah barat. Dapat libur tiga hari dari kantor, maka saya beralih sejenak dari kesesakan ibu kota. Menuju rumah yang jauh dari kota, bahkan dari kota Bandung sekalipun. Menjangkaunya sampai saat ini bagi saya memang melelahkan. Tapi ketika sampai, saya dapat hadiah kebahagiaan yang banyak. Di sini, misalnya, dikelilingi oksigen yang benar-benar bersih karena murni produksinya didominsi oleh kerja tanaman di sawah dan ladang. Tak adalah itu namanya polusi. Udaranya sejuk–jika tak mau disebut dingin. Makanya, pulang ke rumah ibu selalu jadi terapi agar pikiran dan badan selalu sehat. Selalu menyenangkan untuk sekadar kamu berdiam diri saja di sini.

Ayam berkokok sekali lagi sambil mengepakkan sayapnya. Alika dan kawan-kawannya sudah selesai mengaji semua.  Mereka pun pamit pulang. Hei kalian para bocah, semoga tumbuh besar dan menjadi berguna buat orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s