Perihal Pernikahan

sunset-538286_1920

“Lantas apakah menjadi naif, ketika berpikir bahwa pernikahan adalah cara manusia agar punya teman hingga tua?”

Bermula dari pernyataan seorang teman perempuan di grup chatting online, entah candaan, entah bentuk kebodohan, atau mungkin kekonyolan. Bahwa dia bilang, pernikahan adalah cara mahal seorang laki-laki me-laundry bajunya, atau cararepot seorang perempuan menyandang status istri dari seseorang.

Seorang teman perempuan yang lain tak terima, tapi ia protes di grup yang sebelahnya dengan alasan memutuskan untik menyalurkan emosi untuk orang-orang yang dia rasa penting saja. Ya, si teman protes di grup yang lain. Di dalamnya ada saya juga.

Begitulah orang zaman now berkomunikasi. Ribet, pilah-pilih dan agak sedikit konyol. Mohon dimaklumi. 😀

Begini kata si teman:

“Gue Ogah terjebak hidup selamanya hanya untuk nglaundry baju org dan dibayar cuma pake sex yang dilegalkan #ini efeknya kalo pake jalan pikiran yg dia bilang. Mikirlah kalo pernikahan itu sebuah kongsi menguntungkan bagi dua belah pihak. Jgn lupa yak bikin perjanjian pra nikah juga. Perjanjian pra nikah itu penting. Banyak org akhirnya kaya ‘ketipu’ ngrebutin anak lag sama harta gono gini gara2 g jelas kesepakatan sebelomnya.”

Uh wow. Sama sekali pemikiran model begini baru saya dengar (baca). Ah memang selama ini belum terlalu repot berpikir ke arah sana. Lantas spontan saya jawab teori-teorinya dengan kalimat berikut ini:

“Da aku mah apa atuh, sampe saat ini mikir kalo pernikahan itu adalah cara manusia berfokus ngejalani hidup dengan belajar saling percaya setiap hari sama orang tertentu, saling tolong setiap hari dan belajar mengorganisasi dengan sehat rumah tangga uk nyiapin manusia baru yang berguna bagi nusa dan bangsa.”

Pernyataan jawaban itu terdengar naif, idealis, teoritis dan memuat guyon yang sama sekali tidak lucu. Pernyataan model begitu mungkin disebabkan saya yang memang terlalu sering nonton drama korea. Haha.

Atas pernyataan jawaban saya itu, sama sekali saya tidak bermaksud mendebat atau tak sepakat dengan apa yang ia utarakan. Justru pemikirannya mengejutkan. Sekaligus sangat realistis dan mungkin bisa dipertimbangkan.

Teman saya itu lantas menjawab:

Teman: “Nah itu naif nia.”

Saya jawab: “Hahaha… jadi yang ga naif itu kayak gimana neng?”

Teman: “Yg g naif? Hmmmm… Bahwa semua org pasti mencari keuntungan buat dirinya sendiri. Ini udh hukum alam… Yaudah taro itu di masing org dalam pernikahan. Kalo mereka udh g bermisi sama terjadilah hukum tarik menarik. Samakan misi itu penting. Dari yg remeh sampe soal punya anak. Jgn takut buat tanya kalo nanti cere gimana. Namanya juga perencanaan buat misi itung2 kegagalan juga lah. Kalo udh mikir soal gagal pasti ada pikiran gimana biar g gagal kan? #ini omongan nikah dr org yg belom nikah jd jgn percaya, nanti musrik. Hahaha

Saya tersenyum membaca rangkaian pernyataannya. Tak menentang, tapi sejenak berpikir ulang tentang pernikahan. Ini merupakan sesuatu yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya. Tapi sesuatu itu perlahan mulai menggerayangi pelan-pelan. Mungkin disebabkan faktor usia yang makin menua.

Semua orang yang berniat ingin punya pasangan (lebih spesifiknya sesuatu yang dinamakan “suami” atau “istri”) pasti mengharapkan mendapatkan seseorang yang sesuai dengan keinginannya. Antara keinginan yang satu dengan yang lainnya berbeda. Tapi dalam banyak kasus, makin sederhana seseorang berkeinginan makin mudahlah ia mendapatkan pasangan.

Sebaliknya, semakin muluk-muluk dan keras ia membela keinginannya soal pasangan hidup, biasanya semakin lambat ia menegaskan hubungan dalam ikatan pernikahan. Meski begitu, pernikahan bukanlah sebuah ajang perlombaan di mana kita harus saling mendahului untuk menyebut siapa yang nikah duluan atau belakangan.

Ini juga sama sekali saya tak membicarakan soal pasangan sejenis misalnya gay atau lesbi, ya. Mereka pengecualian karena ada masalah kompleks di sosial di mana kalangan jenis ini kebanyakan dianggap “tabu” bahkan dilarang.

Balik ke soal pasangan hidup dan pernikahan, saya dinilai naif pemikirannya. Saya jawab: memang iya. Sebab dalam beragam kasus pernikahan, tak mudah untuk saling menjaga atau saling tolong dengan tulus hingga tua. Di dalamnya nanti ada konflik, ada ketidaksesuaian, ada tekanan, ada hal lain yang bisa merusak hubungan. Jadi, yang namanya pernikahan mungkin saja menjadi tak menyenangkan.

Makanya ada tawaran antisipasi berupa perjanjian pra nikah. Segalanya memang harus dibicarakan di awal. Ini yang kata orang-orang disebut komitmen. Agar ketika nanti ada tarik-menarik kepentingan, akan ada rujukan si perjanjian tadi, sebagai senjata keadilan. Siapa yang menang, siapa yang kalah.

Tapi saya tak bisa membayangkan ada secarik kertas berisi rentetan perjanjian pra nikah yang harus disepakati. Mengapa sebelum menikah sudah membangun rasa curiga? Yang jelas segala keinginan di awal memang harus dibicarakan. Semua pasangan harus terbuka dan saling paham keinginan pasangannya.

Berpikir realistis memang bisa mengantisipasi banyak hal. Tapi dalam urusan ini, rasanya menyeramkan.

Entah pemikiran naif saya akan terwujud atau tidak. Itu hanya harapan berdasarkan apa yang saya yakini, bahwa kita harus selalu berprasangka baik pada Tuhan. Pun pada apa yang telah ditakdirkan nantinya. Kenaifan kadang diperlukan untuk menciptakan harapan yang menyenangkan.

Lagi pula, agenda pernikahan saya masih gulita. Entah kapan dan dengan siapa nantinya itu kejadian. Entah akan terjadi atau tidak, karena siapa yang tahu umur kita akan berujung kapan dan di mana. Tapi jika pernikahan dan rumah tangga terjadi nantinya, saya ingin menjalaninya dengan biasa-biasa saja, tidak perlu norak.

Santai saja. Saat ini berdoa saja kepada Tuhan, agar mendapatkan pasangan hidup yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Semoga baik saya maupun pasangan kelak bisa sama-sama sabar dan menyesuaikan diri sepanjang hari, hingga kita sama-sama tua nanti.

Dengan begitu, suatu saat nanti saya dan “dia” bisa sama-sama pergi ke tepi danau di senja yang temaram. Kita di sana duduk bersebelahan sambil berbincang hangat sembari mensyukuri pemandangan langit yang damai, lalu pulang ketika adzan maghrib berkumandang.

Ketika pernikahan dan kisah rumah tangga terjadi, saya ingin saya dan suami kelak tak merasa “mentang-mentang istri” atau “mentang-mentang suami”. Atau “mentang-mentang ibu, mertua, tante, nenek, bapak, paman, kakek” jadi merasa harusnya begini, tak layak begitu, harus diperlakukan begini, jangan diperlakukan begitu. Tak perlulah merasa “mentang-mentang”, sebab pada dasarnya, kita cuma manusia kecil yang harusnya selalu saling mengingatkan dan memperbaiki diri.

Begitulah kira-kira.


Setelah membaca ulang tulisan lawas ini di 2018, saya jadi ingin mendengarkan lagunya The Band Perry yang berjudul If I Die Young. Bagi yang mau ikut mendengarkan, silakan klik lagunya di sini


sumber gambar dari sini

 

Satu respons untuk “Perihal Pernikahan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s