Membicarakan MMM yang Lagi Nge-Hits

“MMM, Semacam Kanibalisme Modern”

MMM. Istilah asing itu baru saya dengar kemarin, ketika redaktur sore-sore ngorder soal itu secara dadakan. Clue yang disampaikan dalam pesan BBM sebagai berikut: ”

“Muliaman Hadad, ketua OJK lagi di Purwokerto. Ketua OJK Nurhaidah menegaskan akan memanggil pengurus arisan berantai MMM yang makin meresahkan warga. OJK juga akan memanggil televisi yang menayangkan iklan MMM. Menko Sofyan Djalil pun mengatakan akan menindak MMM.”

Dan kala itu, saya diminta untuk ngontak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

Baiklah, segera saya googling dan tanya teman sana sini. Diketahuilah bahwa MMM merupakan singkatan dari Mavrodi Mondial Moneybook. Digagas oleh Mavrodi dari Rusia. Dalam praktiknya, masyarakat yang terlibat diminta setor nominal tertentu, minimal 1 juta. Tring tring … sebulan kemudian dia akan dapat 30 persen dari uang yang dia investasikan di awal. Jadi dia dapat uang Rp 1,3 Juta. Jadi itu seperti arisan berantai yang mana peserta paling bungsu lah yang paling rugi. Karena kalau tidak ada member baru, dia tidak dapat apa-apa.

Jadilah ia meresahkan keberadaannya. Sebab tak sedikit masyaralat yang penasaran adu nasib. Berjudi. Siapa tahu begitu, siapa tahu begini. Siapa tahu dapat untung, siapa tahu orang lain saja yang buntung.

MMM sempat nge-hits sejak tahun lalu di Jakarta. Sempat mati dan bermasalah di akhir tahun lalu, kemudian hidup lagi sejak Februari di kawasan lain.Karena dia bukan lembaga keuangan, pemerintah dinilai tidak bisa berbuat apa-apa. Parahnya, MMM mendominasi transaksi di bank konvensional dalam proses transfer uang. Rekeningnya pun bertebaran di mana-mana. Sungguh tampak mengerikan. MMM jadi semacam praktik kanibalisme di tengah karut-marut situasi negara ini.

Manusia memakan manusia.

Menyikapinya, sejumlah orang meminta pemerintah menegaskan sikap. Sebab yanggung jawab perlindungan masyarakat ada di pundaknya mereka. Yang memang menyodorkan diri untuk jadi pemimpin rakyat. Tapi, berharapkepada pemerintah itu semacam kamu tengah menjerumuskan diri dalam pengharapan yang tak pasti. Semacam di-php-in. Hahaha..

Makanya, sementara pemerintah sedang “bekerja”, perlindungan dini mesti dimulai dari diri sendiri. Saya sarankan, agar kalian semua segera ikut yang namanya MMM, jika kamu mau melestarikan yang namanya praktik saling merugikan di antara sesama kita. Silakan ikutan. Investasikan uang sebanyak-banyaknya di MMM jika kamu mau memelihara sikap egois dan menghamba sama harta. Silakan diteruskan. Ini kan hanya masalah pilihan. Lagi pula, yang judulnya “main”, pastilah menyenangkan di awalnya. Apalagi main uang.

Tapi kalau saya pribadi, sejauh pemahaman saat ini, semua orang berhak memilih jalan mengumpulkan uang masing-masing. Itu urusan masing-masing. Urusan dia untung, karena mungkin dia beruntung. Urusan dia merugi, itu haruanya jadi penderitaannya sendiri. Tak perlu menyalahkan orang lain.

Tapilah silakan dipertimbangkan, investasi bodong yang tampaknya menggiurkan itu seharusnya tak perlu dilirik, karena kita sadar, ketika kita berinvestasi dan menerima uang komisi, sumbernya tak jelas sebab itu berasal dari uang orang lain yang berpotensi merugi. Lagi pula, perputaran ini tak jelas juntrungannya. Tak jelas akhirnya. Dan mengapa lembaran kertas bernama uang itu sangat memperdaya.

Ya, lindungilah diri kita sendiri. Menjaga agar segala yang kita makan dan nikmati jelas alurnya. Dari keringat sendiri. Dari upaya sendiri. Dan seharusnya sesama teman saling jaga.

Baiklah, saya mau langsung nyodorin hasil berita saya saja yang ditulis kemarin, hasil perbincangan dengan YLKI.

JAKARTA–Maraknya pemberitaan tentang skema //money game// Mavrodi Mondial Moneybook (MMM) kembali menuai resah di masyarakat. Karenanya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pun meminta pemerintah agar segera menegaskan kelegalan status MMM di Indonesia.

“Pemerintah harusnya jauh-jauh hari ambil sikap, MMM legal atau tidak, kalau ilegal dan mereka termasuk //money game//, keberadaannya harus segera ditindak, kalau tidak akan sangat merugikan konsumen,” kata anggota oengurus harian YLKI Sularsi pada Rabu (8/4).

Publik selama ini mempertanyakan kejelasan status MMM serta legalitasnya. Jika tak memenuhi syarat legal, seharusnya negara selaku pihak berwenang segera melakukan tindakan hukum. Terlebih, telah banyak korban dari kalangan masyarakat yang berjatuhan. Pemerintah pun harus menindaklanjutinya dengan pengawasan ketat jangan sampai praktik semacam MMM terus berlangsung secara diam-diam.

Diceritakannya, MMM sempat muncul setahun lalu di Jakarta dan menimbulkan masalah. Kemudian setwlah sempat redam, kabarnya terdengar lagi di kawasan Surabaya. “Makanya ini perlu dari semua, pemerintah dan institusi bekerja sama menyelesaikan kasus ini, kalau tidak nanti Indonesia akan jadi surga investasi bodong,” tuturnya.

Edukasi soal keuangan kepada masyarakat, kata dia, tak akan efektif jika praktik-praktik investasi bodong dibiarkan merajalela. Pun media massa, harus memiliki tanggung jawab moral dalam menyiarkan suatu produk promosi. Jangan karena memikirkan keuntungan komersial semata, lantas memasang iklan MMM yang belum jelas statusnya.

Begitu pun dengan masyarakat. Ia meminta agar tidak malu melaporkan kepada pihak berwenang jika telanjur jadi korban investasi bodong. Masyarakat lain pun, yang sadar bahwa MMM merugikan anggota bungsu, harusnya tak memikirkan diri sendiri agar investasinya berlipat dengan membiarkan orang lain menjadi anggota baru. “Egosentris sangat kuat sekali di masyarakat, solidaritasnya belum kuat untuk menghentikan investasi bodong,” katanya. Makanya, kekuatan pemerintah unuk menegakkan hukum sangat dinanti.

Selain menegaskan legal tidaknya MMM, pemerintah pun secara terus menerus harus dapat menjaga kondisi ekonomi dan politik agar senantiasa stabil. Negara harus dibuat agar punya visi dan regulasi yang tegas. Begitu pun penwgakkan hukumnya. “Sekarang yang terjadi pemerintah menampilkan gontok-gontokan, situasi negara jadi tampak labil, investasi bodong pun menjamur,” paparnya.

N sonia fitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s