Pagi (Bagian I)

05.00

03042015

“Semua hal baik tersedia di pagi hari”

Senangnya pagi ini. Masih diberi nafas untuk menikmati pagi, setelah melepas sadar semalaman. Makanya, doa yang diajarkan secara turun temurun di keluarga saya yakni: maha suci Allah yang telah “menghidupkan” setelah “mematikan”, dan kepada Allah lah kita kembali. Ini doa yang keren. Seperti pagi yang selalu keren.

Semakin baik, ketika di pagi hari kita tak terbebani dengan tuntutan liputan. Hahaha.. Ya betul, hari ini saya libur sampai besok. Mari bersorak. Banyak yang harus dibenahi. Kamar saya, dapur dan diri saya sendiri.

Ketika suasana pagi di kosan masih syahdu, di mana para tetangga kosan masih menyepi di kamar masing-masing, di mana semua dari kita masih bermalas-malasan dengan kehangatan dan selimut, di luar sana ada banyak orang yang sudah melek dan bekerja. Terbiasa kedinginan. Merekalah yang kerap disebut “pemerintah” sebagai masyarakat kelas bawah. Mereka yang berada di jalan, mewarnai kehidupan pasar.

Sempat saya melihat sekilas aktivitas mereka yang sibuk beberapa kali, ketika terpaksa turun ke jalan karena harus datang ke lokasi liputan pagi hari. Sepanjang jalan melewati kawasan Pasar Minggu, saya terhenyak. Semua orang di jalanan itu sibuk. Sejak dini hari mereka mempersiapkan barang dagangan, mendorong gerobak, mengangkut sayuran dan barang dagangan lain, menempuh becek dan lumpur, bercampuran dengan aroma limbah dan bau sampah. Sebab ada “gunung sampah” dekat terminal yang berada di belakang pasar.

Mereka telah terbiasa bekerja keras untuk penghidupan mereka. Memang sebagian dari mereka ada yang berpenghasilan besar karenanya, meski sebagian lagi ada yang hanya menerima receh dari keringatnya. Tapi mereka memang pantas mendapatkan uang yang banyak. Toh pergerakan mereka untuk memerolehnya sangat istimewa bahkan terhormat.

Makanya saya selalu kagum dengan orang-orang yang bekerja di pasar tradisional. Merekalah para pejuang keluarga. Mereka yang berkeringat dan kotor secara fisik, untuk hasil yang bersih dan halal. Mereka jauh lebih terhormat dari pada mereka yang kerap saya temui sebagai narasumber liputan. Yakni mereka yang bersepatu, berjas, memakai dasi, dandanan yang bersih tapi entah sumber penghasilannya dapat dari mana. Masyarakat yang katanya disebut kelas bawah, tahu bagaimana berhemat dan melakukan efisiensi cerdas. Tapi orang-orang berdasi itu kebanyakan hanya tahu bagaimana cara menikmati hidup dengan bayaran rupiah.

Memang telah banyak ketimpangan kegiatan di pagi hari. Ketika orang di pasar sibuk mencari nafkah, jauh di luar sana para pejabat dan bahkan kita masih tidur bermalas-malasan. Ketika ada mereka yang mencari rupiah dari hasil mengumpulkan uang recehan kumal, ada yang dengan mudah menerima amplop gaji ratusan ribu bankan jutaan. Di sebelah sananya lagi, ada orang macam kita yang sedang menikmati nyamannya kamar hotel atau semalaman karokean. Lalu membayar uang yang cukup mahal, ketika orang-orang yang beberapa meter di dekatnya tengah berpikir keras bagaimana caranya berhemat agar penghasilannya dapat cukup memenuhi kebutuhan makan dan harian ia dan keluarga. Ah.. Betapa orang-orang seperti kita kadang tidak mensyukuri hidup denga bermalas-malasan. Cuma bisanya Whats app-an, BBM-an, selfie-an, ngerumpi ria, dan segala macam sampah harian.

Alhasil, orang-orang pasar menjadi penjaga pagi. Tidak. Bahkan ia menjadi penjaga kita sepanjang hari. Menjadi tempat bertanya alamat, tempat menyapa, lebih jauh menjadi pemberi pelajaran hidup. Terima kasih atas keberadaan mereka, Tuhan.

Pagi selalu mengundang berkah. Mari selalu bertafakur. Menjaga kewarasan diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s