cerpen: Kisah Pagi Buat Kelana

“Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.” Ingatkah penggalan syair lagu itu, Kelana. Ketika kecil dulu, kita sering menyanyikannya bersama teman sebaya lainnya. Menambahkan dengan satu kata di akhir setiap kalimatnya. Lalu menertawakannya, karena kata-kata yang ditambahkan justru bertolakan dengan makna lagu sesungguhnya: Kasih ibu tiri, kepada beta beti, tak terhingga sepanjang masa bodoh. Begitulah kira-kira. Dan seteruanya, dan seterusnya.

Tapi meski ibu kita mendengarnya, mereka sama sekali tak merasa tersinggung. Medengar anak-anaknya bisa bernyanyi dengan riang saja, mereka akan ikut senang. Begitulah ajaibnya hati makhluk bernama ibu. Terpujilah mereka yang kesabarannya maksimal buat anak-anaknya.

Barusan, lagu itu terdengar di layar televisi. Ditayangkan oleh salah satu rangkaian iklan komersial. Karena hari ini, katanya, hari ibu. Hari di mana lazimnya semua anak yang berbakti, mengucapkan selamat dan doa bagi ibu-ibu mereka, lalu bagi yang mau berbuat lebih, ada peluk dan hadiah yang diberikan kepada sang ibu.

Kita memang senang dengan upacara, perayaan dan semua yang bersifat seremonial, bukan? Ada hari ibu, ada pula hari ayah, anak, mungkin juga ada hari paman atau nenek. Ada pula hari pahlawan, hari pernikahan, hari ulang tahun, dan hari-hari lainnya. Bahkan, hari perayaan kematian pun ada.

Mungkin karena kita adalah makhluk yang cepat lupa. Makanya harus ada perayaan sebagai pengingat. Entahlah. Mengapa pula harus usil. Bagi mereka yang mau punya banyak perayaan, rayakanlah dengan senang hati. Jika tidak, maka tak usah usil dan mengganggu kebahagiaan mereka yang tengah berseremoni.

Kelana, televisi yang barusan menyanyikan lagu “Kasih Ibu” itu berada di ruang tunggu bandara. Suaranya mengusik dini hari yang hening. Lihatlah sekeliling. Kebanyakan penumpang menunggu dengan kantuk. Rata-rata membawa ransel besar. Menanti perjalanan udara yang akan berlangsung beberapa menit lagi.

Dengan keperluan yang pastinya menurut mereka penting. Begitu pun denganku. Dengan alasan pekerjaan, aku bersusah payah bangun dini hari. Memangnya siapa yang mau bangun berangkat ke bandara dini hari. Lebih nyaman tidur di kamar, berselimut dan hangat.

Televisi punya ragam tayangan. Pagi ini, salah satu saluran menayangkan berita kriminal untuk dipertontonkan. Ada kisah pembunuhan anak SMK di daerah anu, ada penculikan di daerah ani, TNI meledakkan kapal ilegal asal negara inu di lautan ana.

Pasangannya berita kriminal adalah korban. Dan kamera selalu bernafsu menyorot wajah pilu. Makin menangis, makin senanglah ia. Karena tayangan akan lebih nyata dramatisnya. Simpati itu dibarengi komeraialisasi. Hipokrasi media.

Di layar kaca, juga diberitakan ada bencana di mana-mana. Hujan selalu membawa berkah, tapi pengelolaan alam yang seenaknya membuat longsor di mana-mana. Bencana itu membuat harta benda mendadak raib atau nyawa melayang.

Di sebelah sana, tiga bocah lincah berlari dengan alas kaki yang berdecit. Bunyinya nyaring bersaing dengan suara televisi. Tapi bunyi langkah kaki mungil yang riang itu terdengar menyenangkan. Kamu seharusnya ada di sini, Kelana. Bersamaku, mendengarkan langkah bocah yang berdecit. Senyum bocah-bocah itu terkembang karena hati mereka yang riang.

Diperhatikan lebih detil, tampak bocah terkecil wajahnya cemas karena tertinggal kedua kakaknya yang berlari lebih cepat. Tapi kecemasannya hanya beberapa saat saja. Ketika si kakak sudah akan putar balik, ia masih di pertengahan jalur. Sang bocah tertegun sejenak. Raut cemasnya memudar, merasa sang kakak tengah menjemputnya. Ia pun segera putar balik. Berlari lagi beriringan dengan langkah kaki berdecit.

Anak-anak memang selalu riang. Pagi ini menyenangkan melihat bocah ceria ketimbang mendengarkan siaran televisi subuh hari. Karena dari semua suguhan yang diterima indra, sedih dan bahagia hanya urusan pilihan saja.

Lantas bagaimana denganmu, Kelana? Apa yang tengah kamu lakukan di dini hari yang sejuk ini. Masih tidurkah? Atau sedang sibuk membaca buku sejarah? Kamu selalu lupa waktu ketika dihadapkan dengan buku. Meski tentu saja bukan urusanku menanyakan itu.

Baiklah, petugas bandara sudah memberitahu agar segera mengantre masuk ke perut burung besi. Kisah yang //ngalor-ngidul// pagi ini sekian dulu. Doakan saya, Kelana, agar perjalanan pagi ini lancar jaya. Waktu keberangkatan sudah tiba. Di mana pun kamu berada, saya juga hanya bisa berdoa. Tentunya doa-doa terbaik agar kamu selalu sehat dan selamat.

22122014, ketika di bandara soeta menunggu pesawat dalam perjalana luar kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s