Pulang (Catatan Kecil Soal “Pulang”-nya Leila S Chudori)

Catatan lama di 09032015

Barusan tamat baca novel “Pulang”-nya Leila S. Chudori. Lalu tergelitik untuk menulis komentar kecil. Meski telat membaca, itu lebih baik dari lada tidak sama sekali. Haha.

Baiklah. novel Pulang bercerita tentang sejarah kehidupan keluarga eks tahanan politik yang dituding penggerak aksi berbahaya bernama Partai Komunis Indonesia (PKI). Di mana ketika membacanya, ada setiap jeda, ketika untaian paragraf itu mengalir merangkai cerita. Bermula dari kisah Hananto, Dimas Suryo, Neng Surti, hingga Lintang, Alam dan juga ada Nara. Serta tokoh lainnya yang berentet banyak.

Biasanya jika saya membaca buku novel dengan tokoh yang banyak, kerap kali saya terlupa tentang sebagian nama dan tokoh ceritanya. Karwna mungkin membaca tanpa konsentrasi maksimal. Tapi penulis berhasil mengikat mereka. Membentuk masing-masing karakternya hingga saya tak merasa perlu lagi membolak-balik halaman buku untuk menyambungkan kisah-kisah yang terangkai. Semua berkarakter. Semua menempel di otak. Mengalir.

Dalam Pulang diceritakan, betapa satu rezim yang berupaya mempertahankan kuasanya secara kekal mampu membuat hidup sejumlah orang menjadi sulit, bahkan hingga keturunannya pun menjadi sulit. Ia pun membuat bangsa ini melakukan dosa berjamaah, disadari maupun tidak. Sebab kebanyakan orang mau tak mau jadi menghakimi orang lain tanpa ia ketahui secara pasti alasannya. Membuat orang menyatakan ngeri dan benci, untuk sesuatu yang “katanya” berbahaya.

Sempat ada suatu masa, ketika semua orang dibisiki ada hantu PKI, lalu mereka dengan sendirinya merasa jeri. Berusaha melindungi diri agar tak tersentuh bahayanya. Pemerintah sebagai dalang dan perancang pemusnahan kelompok PKI kemudian menegaskan sejumlah aturan, agar pergerakan orang-orang yang diaebut PKI itu menjadi sempit, terhimpit, lalu hilang.

Di sisi lain, tetap saja ada orang-orang yang melawan. Sebab merasa jadi korban. Sebagian lagi bertahan dan pasrah. Dikisahkan bagaimana mereka yang jadi korban itu “bertahan”. Ada pula yang bersemangat mencari keadilan setiap hari. Meski ada pula yang menyerah. Mengikuti alur. Berbohong.

Tapi setiap ibu selalu punya pintu maaf untuk anaknya. Dan jalan pulang selalu terbuka buat mereka yang ingin kembali setelah melakukan kesalahan,

Saya sebenarnya tak begitu detail mengikuti kisah pewayangan atau mahabarata. Hanya menonton sekilas sekilas lewat tayangan sinetron karmapala, film india, kisah guru dan dosen, rumpi di antara teman-teman atau dari penggalan cerita pada buku yang belum selesai dibaca. Tapi dari novel Pulang, saya jadi paham sedikit soal sosok Ekalaya. Dia yang selalu mencintai mahaguru. Padahal ia dikhianati. Padahal barang penting miliknya (jari untuk memanah) dirampas. Demi ego Arjuna yang tak mau punya saingan. Tapi kesetiaan Ekalaya selalu terjaga. Seperti juga Dimas yang diusir oleh tanah airnya, tapi ia tetap sangat menginginkan untuk berpulang ke sana. Indonesia.

Ia juga sesosok Bima. Yang paling teguh menjaga cintanya buat Surti.

Pulang ialah sepenggal kisah tentang sejarah kelam bangsa Indonesia. Si penulis cerdas membingkainya dalam kisah keluarga dan cinta. Love u Bu Leila.

Yap. Cinta. Dia selalu jadi bumbu yang menarik jika disampaikan dengan pas. Tapi bikin garuk-garuk kepala atau bahkan bikin muntah kalo disampaikan berlebihan. Menyoal Dimas Suryo, Hananto dan Surti. Atau keturunan mereka, Lintang Utara, Nara dan Alam, kisah cinta itu terselip apik ketika penulis mulai membedah kepiluan para korban tahanan politik.

Vinta dikemas apik, meski tetap ada yang terasa kelebihan bumbu. Lihat saja, Neng Lintang akhirnya kepincut sama sosok Alam, terserang //le coup de foudre//. Halilintar, petir, cinta pada pandangan pertama. Penulis membuatnya logis. Saya tergelitik sebab penulis mampu membuat semuanya natural dan tak ada yang perlu dimasalahkan. Padahal Lintang tengah bertindak tak setia pada kekasihnya. Seperti sinetron. Dengan tokoh-tokoh yang serbasempurna. Cantik, ganteng, pintar, berani, idealis. Mereka semua dengan kisah percintaannya itu memang hanya ada dalam karangan belaka.

Tapi, toh soal Lintang yang berselingkuh denga Alam, ini hanya urusan pilihan. Sebab pada akhirnya, Neng Lintang pun sadar, meski lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi, tetapi memilih adalah jalan hidup yang berani.

Akhir kata, ini bukan catatan resensi. Hanya apresiasi sederhana untuk Bu Leila Chudori. Dia yang melalui cerita ini memberi saya satu pemahaman. Bahwa semua orang harus pulang. Seberapa lama dan seberapa jauh seseorang berkelanam pada akhirnya semua orang akan memilih tempat pulangnya. Jika tidak, maka nasib yang akan memilihkan tempat pulang itu untuknya.

Salam Indonesia, Tetaplah merdeka. Untuk tersenyum, berpikir dan berbagi kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s