Kecoak

05.14

31032015

download

“Sering kali kita tak menyadari bahwa sesuatu yang kita benci, atau kita takuti, adalah sesuatu yang paling kita kenali.”

Contohnya kecoak. Barusan ada kecoak mengendap-endap masuk melewati pintu kamar kosan saya yang setengah terbuka. Padahal dia berjalan mengendap-endap, dan saya sedang tidur setelah bikin satu berita pagi. Eh, entah telinga saya yang jeli, atau memang saya sangat kenal sama makhluk mini itu, dalam tidur saya mendengar langkah kakinya yang membuat merinding. Yap, ketika itu saya tak tahu itu apa. Tapi tiba-tiba saja jadi merinding dan meloncat bangun.

Benar saja kan! Si kecoak tanpa permisi lewat dengan cepat. Seperti mabuk. Melenggang tepat satu meter di atas kepala, lalu bersembunyi di kolong lemari. Yatuhaan. Ketakutan saya makin menjadi-jadi. Respons yang sudah dihapal oleh anak-anak satu kosan. Panik!

Ya. saya tahu kecoak adalah makhluk kecil yang tak menggigit dan tak seharusnya ditakuti. Rasa takut yang berlebihan ini pun seharusnya tidak ada. Siapa yang suka punya kepanikan berlebih terhadap suatu hal. Sama sekali tidak keren merasa terintimidasi oleh kecoak. Tetangga kosan tak ada yang bisa segera dinintai tolong. Makanya, saya harus //fight// sendirian. Mengendap-endap saya ambil sapu dari dapur. Si kecoak tampaknya taku rencana saya, dan mulai melalukan pergerakan.

Plis, itu sangat menakutkan.

Di antara degup jantung yang makin cepat, sapu saya angkat sebelum si kecoak makin liar. Yap. Dengan satu sapuan sakti, si kecoak mental. Teman yang melihat aksi brutal saya segera sigap membantu. Mengambil racun serangga lantas menyemprotkannya secara bertubi-tubi pada itu kecoak.

Kasihan sih, sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Ajalnya sudah tiba. Ia terbaring lemas keracunan. seketika, kaki-kakinya berhenti berontak. Kecoak itu mati.

Baiklah. Kembali ke kecoak. Ini bukan kali pertama saya menghadapi keberadaannya. Hampir dalam semau situasi, kejadiannya begini. Datang kecoak-panik-menginginkan kemusnahannya. Begitu berulang saat datang kecoak. Saking takutnya, saya sampai hapal jika keberadaannya mulai terasa mengancam. Saya sampai hapal baunya, suara langkahnya, bahkan prediksi pergerakannya. Huaaaaahaha. Cerita apakah ini.

Tapi sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah, jangan terlalu berputus asa ketika kamu memiliki ketakutan terhadap satu hal. Sebab justru dari ketakutan itu, kamu akan berpikir bagaimana merancang strategi pertahanan.Untuk kecoak, kamu akan jadi lebih menjaga kebersihan, karena kamu tahu, kecoak datang diundang oleh kekotoran. Tapi, ketika upaya pencegahan itu sudah dilakukan, dan ia tetap datang, otak berpikir untuk melakukan langkah cepat. Lantas membangkitkan keberanian. Meski akan ada rasa panik dan konyol ketika menghadapinya, tapi itu semua sensasi agar keberanian makin terasa. Dengan memiliki rasa takut, kamu juka akan lebih mengenalnya–meski memang sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik.

Sederhana saja, ambilah sisi positifnya.

Lagi pula, kematian kecoak itu tak sia-sia. Sebab kemudian ia mampu menyuruh saya membuka laptop dan menuliskan tentangnya. Ini bahkan jadi tulisan pertama saya di blog baru ini. Apalah pula.

Baiklah. Sekian dan terima kasih. šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s